Yang Perlu Anda Tahu Tentang Sunat Perempuan / Khitan Wanita

Sunat perempuan / khitan wanita, perlukah Haruskah bayi wanita di sunatBagaimana sunat perempuan menurut Islam ?  Demikian beberapa bentuk pertanyaan yang sering ditanyakan di milis2 Ibu dan Anak.  Berikut Ibujempol membuat rangkuman pro dan kontra sunat wanita / sunat perempuan, yg dihimpun dari beberapa pendapat pribadi Ibu / wanita dari beberapa milis, dari berita media masa dan menurut hadist .  Semoga bermanfaat.

Sunat Wanita dilarang :

Sunat Wanita***Sekedar sharing, info yg aku tau ttg sunat untuk anak perempuan sekarangudah nggak boleh lagi, karena dianggap nggak berpengaruh apa2. dan itu dah ada peraturan dari WHO  dan Depkes bahkan MUI karena digolongkan sbg tindakan kekerasan femalegenital mutilation (CMIIW).  Kemaren juga aku sempet baca ada artikelnya  di majalah  Ayahbunda no.5.
Dari sisi agama islam kayaknya (setau aku) nggak ada hadistnya yg
menyuruh untuk menyunat anak perempuan (CMIIW lagi).  Baby aku waktu  lahir kemaren juga nggak ada acara sunat menyunat tuh. dokternya malah nggaknyaranin karena emang gada yg perlu disunat.hehehe..

***Sebenernya kalo dalam agama islam sunat terhadap perempuan itu di haramkan.. dulu sekali emang dibolehkan tapi kemudian hukum itu diperbaharui melalui kesepakatan para ulama, alasannya karna menyakiti perempuan..

***kayaknya khitan untuk perempuan secara medis udah dilarang deh..cuman pengalaman dit4 sy tinggal skr (Bontang)sebagian masyarakatnya masih berkeyakinan kuat bahwa sunat perempuan harus dilakukanbeberapa dokter disini ‘mengatasi’nya dgn ‘membohongi’ ortu si anak.. jadi di anak diajak masuk ruangan trus korden ditutup trus pisau bedahnya ditempel ke klitorisnya sianak tanpa melukai  udah begitu doank….jadi menurut saya gak perlu deh mbak di khitan putrinya

Artikel dari Detik.com ( http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/09/tgl/22/time/133950/idnews/680949/idkanal/10)

Sunat Perempuan Timbulkan Komplikasi & Psikoseksual
Ramdhan Muhaimin – detikcom
Jakarta – Sunat umumnya dialami oleh perempuan sejak bayi hingga usia 9
ahun. Sunat menimbulkan komplikasi dari pendarahan hingga kemandulan
disfungsi seksual. Tidak hanya itu, sunat bisa menyebabkan trauma seksual.

Demikian yang mengemuka dalam acara lokakarya bertajuk “Menggunakan HAM
untuk kesehatan maternal dan neonatal” di Ruang Leimena, Departemen
Kesehatan, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat
(22/9/2006).

Komplikasi jangka pendek akibat medikalisasi sunat perempuan adalah
pendarahan, infeksi yang bisa menimbulkan septikemia, penyakit tetanus dan
luka membusuk.

Komplikasi jangka panjang adalah kesulitan menstruasi, infeksi saluran
kemih, radang panggul kronis, kemandulan disfungsi seksual, kesulitan saat
hamil dan bersalin dan risiko tertular HIV.

Sunat juga mengakibatkan psikoseksual pada perempuan seperti nyeri saat
berhubungan intim dan mengurangi kenikmatan seksual, ketakutan, depresi,
dan  konflik dalam perkawinan.(aan/sss)

Pendapat dr Wati dari milis sehat sehubungan dengan artikel detik.com di atas :

Saya memang ikut di workshop itu.  Jadi ini merupakan hasil penelitian timnasoinal dibantu beberapa organisasi
internasional seperti WHO, Unicef.   Ada beberapa isu hasil temuan yang akan direkomendasikan ke pemerintah …
antara lain soal sunat perempuan.   Khusus soal sunat perempuan … DirJen BinKesMas DepKes RI sudah
mengeluarkan Surat Edaran tentang L:arangan Medikalisasi Sunat perempuan bagi Petugas Kesehatan Nomor HK.00.07.1.3.1047a; 20 April 2006.    Kajian ilmiahnya bisa dibaca buku Dr Ahmad Lutfi Fathullah MA … Fiqh
Khitan Perempuan.   Di lain sisi, hasil temuan menunjukkan juga bahwa khitan pada perempuan lebih bersifat tradisi

Ulama Dunia melarang sunat perempuan, berikut kutipan dari  BBC Indonesia tgl 24 November 2006 ( http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2006/11/061124_circumcision.shtml ), saya copy paste sbb :

Wakil Ulama dari seluruh dunia tengah yang menghadiri konferensi mengenai sunat perempuan di ibukota Mesir, Kairo menyerukan agar praktik ini dilarang, dan mereka yang melakukannya dihukum.

Otoritas keagamaan tertinggi di Mesir sebelumnya mengatakan, tidak ada alasan keagamaan yang membenarkan praktik sunat perempuan. Sunat perempuan dipraktikkan secara meluas di Mesir dan beberapa negara lain di Afrika, tempat banyak kalangan berkeyakinan, sunat membantu anak perempuan mereka berpantang seks sebelum menikah.

Wartawan BBC Heba Saleh di Kairo melaporkan, para ulama yang berhadir mereka mendesak kalangan pemerintah agar memberlakukan hukum yang melarang sunat perempuan, dan menghukum orang-orang yang melakukannya.

Pengalaman ortu yang menyunat anak perempuannya :

***Sebenarnya aku sendiri keberatan anakku disunat cuma aku nurut aja & akhirnya aku ma suami bawa anakku k RSB tempat anakku lahiran & ternyata emang sekarang sunat untuk cewek udah dilarang pemerintah. Bahkan aku ma suami diliatin surat dr depkes-nya.

***Saya menyesal dgn yg terjadi pd anak saya S  ( lahir 2001 Maret ). Krn ketidak thuan saya dan krn lingkungan yg mengatakan ( termasuk bidan yg menangani saya )… mengatakan bayi perempuan kudu dikhitan ( untuk dibersihkan ). JAdi waktu itu ceritanya setelah saya kontrol 1 minggu after melahirkan ( caesar )… saya ke dsog… sekalian si baby dikhitan dan ditindik telinga oleh bidan. ( FYI bidan berpraktek di sebuah RS terkenal di Bandung ) Saya lihat langsung proses tindik telinga dan khitan. Emang khitan yg saya lihat hanya di ” toel ” ujung clitorisnya dan ( hampir tidak ada noda darah )… krn kata bidan h anya dibersihkan bagian luar yg kotor. Kalau saya boleh menambahkan dgn ” upil ” (= kotoran hidung) masih gedean upilnya.
Llarangan dari MUI ( saya lupa tahunnya mungkin 2005/2006 ?? )… bayi perempuan nggak boleh khitan… dgn alasan dikhawatirkan akan mengganggu saat dewasa si anak dalam melakukan hubungan badan ( tidak merasakan kenikmatan )… krn sejauh ini yg diwajibkan khitan h anya laki-laki.  Apalagi yg terjadi dipedesaan kemungkinan pemotongan alat kelaminnya trlalu kedalam…. kan kasian anaknya entar kalau udah dewasa….  Jadi sekarang udah bukan jaman lagi anak perempuan dikhitan….. yg penting dalam menjaga alat kemaluan ini kudu pinter dan selalu dijaga ke – hyginesannya. Gitu menurut saya….
Moga pengalaman saya ini bisa dijadikan pelajaran buat para moms yg punya bayi perempuan…

Pendapat Pro Khitan bayi wanita

Setahu saya dalam fiqih mazhab imam syafi’i sunat pada perempuan itu wajib dan sunatnya itu bukan memotong seluruhnya tetapi hanya sedikit sj atau menggoresnya sj. (DS)`

Hadits-Hadits tentang Khitan Wanita

1. Dari Abu Hurairah, ia berkata, ?Aku mendengar Nabi bersabda, ‘Fitrah itu ada lima; khitan, mencukur bulu kemaluan, menggunting kumis, memotong kuku dan mencabut bulu ketiak.? (HR.Imam Muslim, Abu Daud, an-Nasa’i dan Ibn Majah).  Selanjutnya bisa

Pendapat Para Ulama Mengenai Masalah Khitan Wanita

1. Imam an-Nawawi (Syarah Muslim, I: 543) berkata, “Khitan hukum-nya wajib menurut Imam asy-Syafi’i dan kebanyakan para ulama, sedangkan menurut Imam Malik dan para ulama yang lain adalah sunnah. Menurut Imam asy-Syafi’i, ia wajib bagi kaum laki-laki dan wanita juga.”

2. Ibn Qudamah berkata di dalam al-Mughni (I:85), “Ada pun khitan, maka ia wajib bagi kaum laki-laki dan kehormatan bagi kaum wanita. Ini merupakan pendapat banyak ulama?” Imam Ahmad berkata, “Bagi laki-laki lebih berat (ditekan-kan).” Kemudian beliau menyebut-kan alasannya sedangkan bagi wanita menurutnya lebih ringan. (al-Mughni, I: 85)

Hadits dan pendapat ulama tentang khitan wanita / sunat perempuan, selengkapnya bisa dibaca di :  http://www.kajianislam.net/modules/smartsection/item.php?itemid=183

Silakan dibaca, dipikirkan dan diputuskan sendiri apakah anda akan menyunat bayi perempuan anda atau tidak.

Related Posts with Thumbnails

21 Responses to Yang Perlu Anda Tahu Tentang Sunat Perempuan / Khitan Wanita

  1. bunda on March 26, 2010 at 11:23 am

    maaf setahu saya , MUI telah mengeluarkan surat keputusan tentang Sunnat /Khitan pada perempuan. MUI menyatakan sunnah. jadi yang diperbaiki adalah cara menyunat nya tidak berlebih-lebihan, hanya sedikit saja dari klitoris.

    • Ibujempol on March 26, 2010 at 11:28 am

      Makasih infonya, Bunda.
      Akan saya tambahkan info Bunda dalam artikel ini.

  2. ahmed on April 20, 2010 at 1:45 pm

    Here’s an excellent article on Female Circumcision in Islam

    There are many ahadith or sayings of the Prophet Muhammad (Peace Be Upon Him)to show the important place, circumcision,whether of males or females, occupies in Islam.

    Among these traditions is the one where the Prophet is reported to have
    declared circumcision (khitan) to be sunnat for men and ennobling for
    women (Baihaqi). He is also known to have declared that the bath
    (following sexual intercourse without which no prayer is valid) becomes
    obligatory when both the circumcised parts meet (Tirmidhi). The fact that
    the Prophet defined sexual intercourse as the meeting of the male and
    female circumcised parts (khitanul khitan or khitanain) when stressing on the need for
    the obligatory post-coital bath could be taken as pre-supposing or
    indicative of the obligatory nature of circumcision in the case of both
    males and females.

    Stronger still is his statement classing circumcision (khitan) as one of the
    acts characteristic of the fitra or God-given nature (Or in other words,
    Divinely-inspired natural inclinations of humans) such as the shaving of
    pubic hair, removing the hair of the armpits and the paring of nails
    (Bukhari) which again shows its strongly emphasized if not obligatory
    character in the case of both males and females. Muslim scholars are of
    the view that acts constituting fitra which the Prophet expected Muslims
    to follow are to be included in the category of wajib or obligatory.

    That the early Muslims regarded female circumcision as obligatory even
    for those Muslims who embraced Islam later in life is suggested by a
    tradition occurring in the Adab al Mufrad of Bukhari where Umm Al
    Muhajir is reported to have said: “I was captured with some girls from
    Byzantium. (Caliph) Uthman offered us Islam, but only myself and one
    other girl accepted Islam. Uthman said: ‘Go and circumcise them and
    purify them.’” More recently, we had Sheikh Jadul Haqq, the
    distinguished head of Al Azhar declaring both male and female
    circumcision to be obligatory religious duties (Khitan Al Banat in Fatawa
    Al-Islamiyyah. 1983). The fatwa by his successor Tantawi who opposed
    the practice cannot be taken seriously as we all know that he has
    pronounced a number of unislamic fatwas such as declaring bank interest
    halal and questioning the obligation of women wearing headscarves.

    At the same time, however, what is required in Islam, is the removal of
    only the prepuce of the clitoris, and not the clitoris itself as is widely
    believed. The Prophet is reported to have told Umm Atiyyah, a lady who
    circumcised girls in Medina: “When you circumcise, cut plainly and do
    not cut severely, for it is beauty for the face and desirable for the
    husband” (idha khafadti fa ashimmi wa la tanhaki fa innahu ashraq li’l
    wajh wa ahza ind al zawj) (Abu Dawud, Al Awsat of Tabarani and Tarikh
    Baghdad of Al Baghdadi).

    This hadith clearly explains the procedure to be followed in the
    circumcision of girls. The words: “Cut plainly and do not cut severely”
    (ashimmi wa la tanhaki) is to be understood in the sense of removing the
    skin covering the clitoris, and not the clitoris. The expression “It is beauty
    (more properly brightness or radiance) for the face” (ashraq li’l wajh) is
    further proof of this as it simply means the joyous countenance of a
    woman, arising out of her being sexually satisfied by her husband. The
    idea here is that it is only with the removal of the clitoral prepuce that
    real sexual satisfaction could be realized. The procedure enhances sexual
    feeling in women during the sex act since a circumcised clitoris is much
    more likely to be stimulated as a result of direct oral, penile or tactile
    contact than the uncircumcised organ whose prepuce serves as an
    obstacle to direct stimulation.

    A number of religious works by the classical scholars such as Fath Al
    Bari by Ibn Hajar Asqalani and Sharhul Muhadhdhab of Imam Nawawi
    have stressed on the necessity of removing only the prepuce of the
    clitoris and not any part of the organ itself. It is recorded in the Majmu Al
    Fatawa that when Ibn Taymiyyah was asked whether the woman is
    circumcised, he replied: “Yes we circumcise. Her circumcision is to cut
    the uppermost skin (jilda) like the cock’s comb.” More recently Sheikh
    Jadul Haqq declared that the circumcision of females consists of the
    removal of the clitoral prepuce (Khitan Al Banat in Fatawa Al Islamiyya.
    1983).

    Besides being a religious duty, the procedure is believed to facilitate good
    hygiene since the removal of the prepuce of the clitoris serves to prevent
    the accumulation of smegma, a foul-smelling, germ-containing cheese-
    like substance that collects underneath the prepuces of uncircumcised
    women (See Al Hidaayah. August 1997). A recent study by Sitt Al Banat
    Khalid ‘Khitan Al-Banat Ru’ yah Sihhiyyah’ (2003) has shown that
    female circumcision, like male circumcision, offers considerable health
    benefits, such as prevention of urinary tract infections and other diseases
    such as cystitis affecting the female reproductive organs.

    For more benefits of Islamic female circumcision also known as hoodectomy see http://www.hoodectomyinformation.com

  3. Mila on April 26, 2010 at 9:33 am

    Jelas sekali bahwa Sunat untuk perempuan bukan dibawa oleh Islam, dan maka bukan ajaran agama Islam. Nabi mengatakan pada seorang dukun bayi yang menyunat seorang bayi perempuan agar memotong sedikit saja krn bisa berpengaruh terhdap kenikmatan pasangan. Pesan Nabi S.A.W itu adalah sebuah pesan untuk merespon sebuah praktik yang telah menjadi budaya wilayah Asia Timur itu. Maka pesan nabi itu seharusnya tidak dijadikan sebuah sunah nabi terhadap seluruh muslimah untuk melakukan khitan. Berbeda dengan khitan untuk laki2 yag adalah wajib, kerna Allah memerintahkannya kepada Nabi Ibrahim untuk mengkhitankan Ismail. Karena pada jaman itu, yg dikhitan justru perempuan bukan laki-lakinya krn dianggap perempuan yang membawa dosa apabila tidak dikhitan, dan bahkan dianggap pelacur. Padahal secara medis yg perlu dikhitan adalah laki-laki dan inilah yng membedakan mukmin dan kafir pada jaman itu. Allah jelas mengatakan agar mukmin tidak menyerupai suatu kaum kafir. Nah kalau praktik sunat pada perempuan sudah dilakukan oleh kaum kafir sejak jaman sebelum nabi Ibrahim, bukankah kita berarti meniru praktik itu?! Meskpun katanya yg berbeda adalah caranya, bahwa kaum kafir memotong banyak, sedangkan di Islam sedikit saja. Namun indikator sedikit/banyak, siapa yng bisa memperkirakan sebatas apa banyaknya/sedikitnya??? Bukankah ada dalil, apabila sesuatu terihat meragukan kebaikannya, maka lebih baik tidak dikerjakan.

  4. Ranggalingga on May 11, 2010 at 6:06 pm

    Sunat nga sunat yg penting di jaga kebersihannya
    lagian seleranya ada yg suka ada nga

  5. Dody Pradipto Y.S. on May 30, 2010 at 11:21 pm

    Khitan Dapat Menyeimbangkan Libido Seksual Wanita

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Ya, wanita wajib berkhitan. Dan, khitannya dengan cara memotong selaput di ujung klitoris yang bentuknya seperti jengger ayam jantan. Rasulullah n bersabda pada seorang pengkhitan wanita : “Potonglah bagian atas dan jangan berlebihan. Sebab, itu lebih membinarkan wajah dan lebih nikmat untuk dirinya saat bersama suami.” Maksud beliau, jangan banyak-banyak dalam memotong. Demikian, karena tujuan khitan laki-laki adalah membersihkannya dari najis yang mengendap di bawah kulit kulup. Sedangkan, tujuan khitan wanita untuk mengendalikan syahwatnya. Apabila wanita dibiarkan tak berkhitan, maka ia akan memiliki syahwat yang sangat besar. Oleh karena itu, dalam ejek-ejekan dikatakan, “Hai anak wanita tak berkhitan.” Sebab, wanita yang tak berkhitan suka berlagak genit pada kaum lelaki. Dan, inilah di antara perbuatan keji yang banyak ditemui pada kaum wanita bangsa Tatar serta Eropa, dan tidak nampak di kalangan wanita muslimin. Namun, apabila khitan dilakukan secara berlebihan, maka syahwatnya akan melemah, sehingga keinginan suami (dalam berhubungan intim) tak bisa sempurna. Namun, apabila dipotong dengan tidak berlebihan, maka keinginan suami pun akan tercapai dengan penuh keseimbangan.”[4]

    Sa’ati, dalam Bulughul Amani, berkata, “Hikmah disyariatkannya khitan –sebagaimana dinyatakan Imam Ar-Razi- bahwa kulit ujung dzakar sangat sensitif. Bila ujung dzakar selalu tertutup kulup, maka kenikmatan saat bersenggama terasa luar biasa. Namun, bila kulup dipotong, maka ujung dzakar menjadi lebih tebal dan kenikmatan pun berkurang. Hal ini selaras dengan syariat kita, yakni mengurangi kenikmatan dan tidak menghilangkannya sama sekali, sebagai bentuk sikap pertengahan antara berlebihan (ifrath) dan tak ada sama sekali (tafrith).

    Sa’ati berkata, “Hal di atas juga berlaku pada khitan wanita, berdasarkan riwayat Abu Dawud, Hakim dan Thabrani, bahwa Nabi n berkata pada Ummu ’Athiyyah –tukang khitan anak-anak perempuan–, “Khitanilah dan jangan berlebihan. Sebab, itu lebih mencerahkan wajah –yakni air dan darah yang mengalir ke wajah bisa lebih banyak– dan lebih nikmat saat bersama suami,” yakni lebih baik bagi suami saat menggaulinya, lebih disukai suami, dan lebih mengggairahkan. Pasalnya, apabila tukang khitan mengambil seluruh organ khitan (klitoris), maka birahi si wanita loyo sehingga ia tidak bergairah untuk berhubungan intim. Akibatnya, kenikmatan suami berkurang. Namun, jika wanita dibiarkan apa adanya dan organ khitannya tidak dipotong sama sekali, maka syahwatnya akan tetap meluap-luap sehingga ia tidak cukup terpuaskan dengan hubungan intim suaminya. Akibanya, ia dapat terperosok dalam perzinaan. Jadi, memotong sedikit ujung klitoris berfungi untuk menyeimbangkan syahwat dan perilaku.”

    • sabil on September 14, 2010 at 6:51 pm

      kalau mau terperosok perzinahanmah kyanya khitan ato ga dikhitan ga ngaruh ya. temen saya dikhitan laki2 n perempuannya… tnyata mreka tetep zina. yang ngaruh tuh pendidikan n pngamalan agama n bwaan imannya tuh bayi kyanya.

    • botoh on March 23, 2011 at 8:18 am

      TO Dody Pradipto

      Pak…kalu yg namanya centil/genit mah bawaan dari sononya…. jadi gak ada kaitannya dengan penyunatan clitoris pada wanita….. Andai anda bisa ,merasakan….betapa tersiksanya tidak bisa merasakan yang namanya rangsangan….dan ini semua berhubungan dengan yang lainnya…. saya disini adalah sebagi salah satu victim…. Walau saya disunat walau sedikit…. tapi hal ini berhubungan dengan bagian organ saya yang lain…. secara vaginal saya tidak bisa merasakan apa2…terlebih untuk ejakulasi….payudara , ciuman pun tidak saya rasakan sama sekali…. JAD JGN ASAL CUAP YA !!!! Organ lain yg cacat bisa jadi ada pendonornya…. apakah sama halnya dengan clitoris yg terpotong sebagian??? Bisakah kamu mencarikan donornya????

      -The Victim-

  6. Ahmed on June 22, 2010 at 12:11 pm

    You have got it all wrong Pradipto. Islam desires not to control but to enhance sexual satisfaction within marriage, so that the partners will not have to look for sex outside marriage which they might if they are dissatisfied with their spouses.

    Circumcision in the male exposes the glans for better sex and so does it in the case of the female. No part of the clitoris should be removed. Islam has clearly laid down the procedure we should follow which is the removal only of the prepuce of the clitoris and nothing more. There is agreement on this. The Fath Al Bari by Ibn Hajar Asqalani, Sharhul Muhadhdhab by Imam Nawawi, Majmu Al Fatawa by Ibn Taymiyyah and Fatawa Al Islamiyya by Sheikh Jadul Haqq besides a number of other Islamic texts are all clear on this.

    Besides, if there is going to be even a very minor removal of the tip of the clitoris, it can lead to more severe forms. In fact the severe forms we find being practiced today in some countries such as Sudan Egypt, etc which have given Islamic female circumcision such a bad name may have arisen from a similar reasoning. What starts in a small way can with time assume serious forms. This is why it is important that we as Muslims should always strictly adhere to the Sunnah.

    That Islamic female circumcision improves rather than diminishes female sexual feeling is today established beyond doubt. For more details see http://www.hoodectomyinformation.com

  7. Ahmed on June 22, 2010 at 2:58 pm

    In contrast to those who say that Islamic female circumcision (hoodectomy) is harmful to women’s sexual health, there are many research studies proving otherwise. The latest is the recent study Orgasmic Dysfunction Among Women at a Primary Care Setting in Malaysia. Hatta Sidi, and Marhani Midin, and Sharifah Ezat Wan Puteh, and Norni Abdullah, (2008) Asia Pacific Journal of Public Health, 20 (4) accessible http://myais.fsktm.um.edu.my/4480/ which shows that being Non-Malay is a higher risk factor for Orgasmic Sexual Dysfunction in women, implying that Malay women experience less problems in achieving orgasm than non-Malay women. As you know almost all Malay women in Malaysia are circumcised (undergo hoodectomy) in contrast to non-Malay women who are not. This would suggest that hoodectomy does in fact contribute to an improved sex life in women rather than diminishing it as some argue

  8. cantik on August 3, 2010 at 8:26 am

    I totally agree with ahmed. It must be published widely in some part in my country. I did not have done about it, and my sexual life is just normal in marriage. So no reason that having circumcision is to reduce sexual desire. without having circumcision, when we have children with all activity to take care of them, is reducing sexual desire alot. so, I think we must remove the believes. Thanks to my mom that she did not follow the tradition, even ‘just a very small’, nothing at all. And i didn’t do it it to my daughter, either.

  9. Rudi Ikhwan on September 2, 2010 at 4:58 am

    1. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam kepada Ummu ‘Athiyah radiyallahu ‘anha (seorang wanita juru khitan) :

    أُخْفُضِي وَلَا تُنْهِكِي فَإِنَّهُ أَنْضَرُ لِلْوَجْهِ أَحْضَى لِلْزَوْجِ

    “Khitanlah (anak-anak perempuan), tetapi jangan dipotong habis! Karena sesungguhnya khitan itu membuat wajah lebih berseri dan membuat suami lebih menyukainya”. Hadits Shahih, dikeluarkan oleh Imam Abu Dawud (5271), Imam Al Hakim (3/525), Imam Ibnu ‘Adi di dalam AL Kamil (3/1083) dan Imam Al Khatib didalam Tarikhnya (12/291).

    2. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam :

    ِإذَا الْتَقَى الْخِتَانَانِ فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ

    “Apabila dua khitan (khitan laki-laki dan khitan perempuan) sudah bertemu, maka sudah wajib mandi”. Hadits Shahih, dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi (108-109), Imam Syafi’I (1/36), Imam Ibnu Majah (608), Imam Ahmad (6/161), Imam Abdurrazzaq (1/245-246) dan Imam Ibnu Hibban (1173-1174- Al Ihsan).

    Didalam hadits ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam menisbatkan khitan untuk para wanita. Maka ini menjadi dalil tentang disyariatkan juga khitan bagi mereka (wanita, red).

    3. Hadits yang diriwayatkan dari Aisyah radiyallahu ‘anha secara marfu’ :

    اِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا اْلأَرْبَعِ وَمَسَّ الْخِتَانَ فَقَدْ وَجَبَ الْخُسْلُ

    “Apabila seorang lelaki telah berada di atas empat bagian tubuh istrinya, dan khitannya telah menyentuh dengan khitan istrinya, maka sudah wajib mandi”. Dikeluarkan oleh Imam Bukhari (1/291 – Al Fath), Imam Muslim (349- Imam Nawawi), Imam Abu ‘Awanah (1/289), Imam Abdurrazaq (939-940), Imam Ibnu Abi Syaibah (1/85) dan Imam Baihaqi (1/164).

    Di dalam hadits ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam juga mengisyaratkan adanya dua tempat khitan, yaitu pada seorang lelaki dan pada seorang perempuan. Maka hal ini menunjukkan bahwa seorang perempuan juga dikhitan.

    Imam Ahmad rahimahullah berkata : Didalam hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa para wanita dahulu juga dikhitan.

    Hendaklah diketahui bahwa khitan wanita merupakan hal yang ma’ruf (dikenal umum, red) di kalangan para Salaf. Barangsiapa yang ingin menambah panjang lebar penjelasan tentang hal ini, silahkan melihat kitab Silsilatul Ahaditsush Shahihah (2/353). Karena sesungguhnya Syaikh Al Albani – semoga Allah melimpahkan pahala untuk beliau – telah menyebutkan banyak hadits dan atsar yang berkaitan dengan hal ini di dalam kitab tersebut.

    ======== Kalau sesuatu itu datang dari Allah dan Rasulnya, maka saya akan “Sami’na wa Atho’na”, Saya dengar dan saya taati…

  10. teguh on September 16, 2010 at 4:57 pm

    aku ngga begitu ngerti tentang kesehatan, dan ngga begitu tahu tentang agama.
    tapi yg aku tau ini merupakan pendangkalan agama, islam tdk melarang sunat bagi perempuan, tp tiba2 aja ada peraturan bahwa dilarang dalam mengkhitan perempuan.
    yang anehnya berita itu datang dr media non islam, coba baca kembali dan simak berita2 laenya, BBC, PBB, UNICEF, bla2, yg wajar akhirnya menjadi kontrofersi, dan akhirnya seperti in

  11. cowo lebih suka cewe sunat on January 19, 2011 at 8:42 pm

    Untuk sunat cewe yang berdampak buruk bagi cewe seperti yang ditulis diatas adalah tidak benar, dilebih-lebihkan sebagai akal-akalan saja untuk menghapus sunat cewe,

    Larangan cewe yang tidak boleh disunat itu berasal dari agama non Islam sama seperti larangan cowo yang tidak boleh disunat dan dampak kerugian yang terjadi bagi cowo,

    namanya aja sunat sebagai tindakan bedah, pasti ada konsekuensi, tidak ada tindakan yang tidak ada konsekuensinya, semuanya pasti ada sisi positif dan negatifnya, seperti sunat cowo akan membuat penis kurang sensitif lagi

    yang adil donk kalo berpendapat, kalo dibilang mengerikan, sunat cowo juga sama mengerikannya seperti ada kasus terjadi cowo yang disunat yang penisnya kepotong sehingga perlu dioprasi lagi saat masih ada kemungkinan diselamatkan, dan beberapa kasus lainnya yang membuat pendarahan dan infeksi yang serius sampai mati,

    Perlu diketahui semuanya, sunat yang dipertentangkan dibanyak negara seperti yang terjadi di Afrika itu adalah sunat yang memotong klit karena itu sama saja memotong penis cowo, tetapi yang dipotong kulitnya saja dan itu tidak ada pengaruh apa-apa seperti pendarahan dan buat melahirkan

    Keuntungannya sunat cewe seperti, lebih terlihat rapi bagi cowo dan disenangi cowo, lebih mudah dibersihkan sehingga lebih sehat kotoran tidak akan menumpuk disitu, mengurangi gairah yang berlebihan bagi cewe karena cewe memiliki titik rangsangan yang lebih banyak

    @Mila, anda ini Islam bukan, kalo bukan jangan sok tau, dalami dulu Alquran sebagai salah 1 mukzizat dari Nabi Muhammad, sunat itu wajib bagi cowo dan cewe seperti yang dikatakan Nabi Muhammad S.A.W yang sudah ditulis lengkap oleh Rudi Ikhwan,

    karena semua yang dikatakan Alquran berasal dari Allah langsung, siapa tahu saja Alkitab yang ditulis sunat pada cewe sudah dihilangkan karena rasa iba saja kepada cewe, sehingga seperti yang banyak terjadi sunat cewe lebih ditutup-tutupi, sunat yaitu saat lahir supaya tidak terasa sakit saat disunat, atau saat remaja tapi proses sunatnya dirahasiakan, tidak sampai dibuat acara, cewe yang non Islam saja ada yang mau disunat kok

    untuk sakit, sunat cowo dan cewe sama sakitnya dan menderitanya, saat dibius memang tidak terasa sakit, tapi setelah biusnya hilang, akan terasa sakit, sehingga tidak boleh banyak gerak sampai menunggu jahitannya mengering.

  12. fery y.p.h on February 10, 2011 at 5:15 am

    Oowh gtu ych…
    klx mmng iyya sunat u/ cew’ it d spuskan krna mnyakiti kaum cew’ truz g mna donk cma kaum Cow’ ?
    ap bklan d hpuskan jg ?

  13. anto on March 15, 2011 at 1:36 am

    Assalamualaikumwrwb..
    coba anda search pake google..ada banyak artikel tentang sunat khitan wanita termasuk hadits dari Nabi….tetapi memang hukumnya Sunnah tidak wajib seperti lelaki…dan tidak boleh sembarangan sehingga fatal akibatnya…nabi mengatakan sebagian saja tidak boleh berlebihan..
    Wassalamualaikumwrwb…

  14. ummu adil on April 24, 2011 at 2:20 am

    1. Dari Abu Hurairah, ia berkata, ?Aku mendengar Nabi bersabda, ‘Fitrah itu ada lima; khitan, mencukur bulu kemaluan, menggunting kumis, memotong kuku dan mencabut bulu ketiak.? (HR.Imam Muslim, Abu Daud, an-Nasa’i dan Ibn Majah)

    Hadits ini sering dimuat dalam penjelasan mengenai khitan bagi wanita namun untuk dijadikan sebagai dalil khusus bagi khitan wanita tidak menyatakan secara terang-terangan dan gamblang, kecuali dari sisi makna umum yang dikandungnya bilamana diga-bungkan dengan hadits lainnya, ?Sesungguhnya kaum wanita adalah sekandung kaum laki-laki.?

    Sedangkan hadits-hadits yang khusus menyinggung tentang khitan wanita, semuanya tidak terlepas dari sorotan dan cacat. Di antaranya:

    2. Hadits yang dikeluarkan Abu Daud dari Ummu ‘Athiyyah, bahwasanya seorang wanita berkhitan di Madinah, lantas Nabi berkata kepadanya, ?Janganlah engkau bebani dirimu sebab hal itu lebih menguntungkan wanita dan lebih dicintai suami.? Namun pada isnad hadits ini terdapat Muhammad bin Hassan. Abu Daud berkata, ?Seorang Majhul (tidak dikenal identitasnya).? Ia juga berkata, ?Ia meriwayatkan hadits Mursal.? Beliau kemudian melemahkan hadits ini.

    3. Terdapat pendukung lain untuk hadits Ummu ‘Athiyyah di atas yang dimuat oleh al-Khatib al-Baghdadi (V: 327) dari jalur Muhammad bin Sallam al-Jumahi, dari Ummu ‘Athiyyah tetapi di dalam isnadnya terdapat Za’idah bin Abi ar-Raqqad, seorang periwayat hadits Munkar sebagaimana dikata-kan al-Hafizh Ibn Hajar di dalam kitabnya Taqrib at-Tahdzib.

    4. Mengomentari ucapan Abu Daud terhadap hadits Ummu ‘Athiyyah, ?Ia meriwayatkan hadits Mursal?; pengarang buku ‘Aun al-Ma’bud, syarah Sunan Abi Daud berkata, “Demikian juga diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak, ath-Thabarani, Abu Nu’aim dan al-Baihaqi dari Abdul Malik bin Umair, dari adh-Dhahhak bin Qais, ?Di Madinah terdapat seorang wanita yang dikenal dengan Ummu ‘Athiyyah, lalu Rasulullah berkata kepadanya,?” (lalu menyebutkan teks hadits Ummu ‘Athiyyah di atas).? Kemudian Syaikh al-Mubarakfuri, pengarang ‘Aun al-Ma’bud menyebutkan bahwa hadits tersebut memiliki dua jalur lainnya, salah satunya diriwayatkan Ibn ‘Adiy, dari hadits Salim bin Abdullah bin Umar secara Marfu’. Jalur lainnya diriwayatkan al-Bazzar, dari hadits Nafi’ bin Abdullah bin Umar secara Marfu’ akan tetapi di dalam isnadnya (yaitu lafazh al-Bazzar) terdapat Mandal bin Ali, seorang periwayat lemah. Sedangkan dalam isnad Ibn ‘Adiy terdapat Khalid bin Amr al-Qurasyi, seorang periwayat yang lebih lemah dari Mandal.

    5. Kemudian pengarang kitab ‘Aun al-Ma’bud mengomentari, “Dan hadits tentang khitan wanita diriwayatkan dari banyak jalur yang semuanya adalah Dha’if (lemah) dan cacat, tidak boleh berhujjah dengannya.!”

    6. Seperti yang dinukil dari Ibn ‘Abd al-Barr, ia berkata, “Tidak terdapat Khabar (hadits) yang dapat dijadi-kan acuan dalam masalah khitan (wanita) dan tidak pula terdapat sunnah yang layak diikuti.”

    7. Hadits lainnya adalah hadits Usamah al-Hadzali, ia berkata, ?Rasulullah bersabda, ?Khitan itu adalah sunnah bagi kaum laki-laki dan kehormatan bagi kaum wanita,’ namun ini adalah hadits lemah sebab ia dimuat di dalam Musnad Ahmad (V:75) di mana berasal dari jalur Hajjaj bin Artha’ah yang merupakan periwayat lemah dan seorang yang dikenal sebagai Mudallis.

    8. Ibn Hajar di dalam Fath al-Bari (X: 341) menyebutkan beberapa Syawahid (hadits-hadits pen-dukung), di antaranya hadits Sa’id bin Bisyr, dari Qatadah, dari Jabir, dari Ibn ‘Abbas. Namun tentang periwayat bernama Sa’id masih diperselisihkan. Abu asy-Syaikh juga meriwayatkan hadits Ibn ‘Abbas itu dari jalur lain. Demikian pula, al-Baihaqi mengeluarkannya juga dari hadits Abu Ayyub al-Anshari.

    Menurut Syaikh Musthafa al-’Adawi, setiap jalur periwayatan hadits-hadits tersebut tidak terlepas dari sorotan dan cacat.

    9. Di dalam Musnad Ahmad (IV: 217) terdapat hadits dari jalur al-Hasan yang ketika ditanya mengenai sebab tidak datang ke acara khitanan, ia berkata, ?Pada masa Rasulullah, kami tidak mendatangi acara khitanan.? Mengenai hadits ini, Ibn Hajar membantahnya dengan menyatakan bahwa ia berkenaan dengan khitan seorang budak wanita, sebagaimana juga terdapat dalam sebagian jalur yang diriwayat-kan Abu asy-Syaikh. Akan tetapi hadits ‘Utsman tersebut tidak valid karena di dalam isnadnya terdapat Muhammad bin Ishaq dan al-Hasan yang keduanya dikenal sebagai Mudallis. Dalam teks hadits terse-but, keduanya meriwayatkannya secara ‘An-’anah (menggunakan lafazh:’An). Juga terdapat Abdullah bin Abi Thalhah bin Kuraiz yang menurut Ibn Hajar, “Maqbul.”

    Pendapat Para Ulama Mengenai Masalah Khitan Wanita

    Di antara pendapat-pendapat tersebut:

    1. Imam an-Nawawi (Syarah Muslim, I: 543) berkata, “Khitan hukum-nya wajib menurut Imam asy-Syafi’i dan kebanyakan para ulama, sedangkan menurut Imam Malik dan para ulama yang lain adalah sunnah. Menurut Imam asy-Syafi’i, ia wajib bagi kaum laki-laki dan wanita juga.”

    2. Ibn Qudamah berkata di dalam al-Mughni (I:85), “Ada pun khitan, maka ia wajib bagi kaum laki-laki dan kehormatan bagi kaum wanita. Ini merupakan pendapat banyak ulama?” Imam Ahmad berkata, “Bagi laki-laki lebih berat (ditekan-kan).” Kemudian beliau menyebut-kan alasannya sedangkan bagi wanita menurutnya lebih ringan. (al-Mughni, I: 85)

    3. Ibn Taimiyah (Majmu’ al-Fatawa, XXI: 114) ketika ditanya tentang khitan wanita, beliau menjawab, “Alhamdulillah; Ya.! Wanita dikhitan dan caranya adalah dengan memotong bagian paling atas kulit yang dikenal dengan sebutan ‘Arf ad-Dik (jengger ayam jantan).” Kemudian beliau menyebutkan hadits mengenai hal itu (Hadits Usamah al-Hadzali di atas) akan tetapi hadis tersebut adalah lemah.

    3. Ibn Hajar juga menukil pendapat Syaikh Abu Abdillah bin al-Hajj di dalam kitab al-Madkhal yang menyatakan adanya perbedaan terhadap khitan wanita di mana tidak dapat ditekankan secara umum, tetapi harus dibedakan antara wanita timur dan Arab. Lalu beliau menyebutkan alasan-alasannya.

    Mengenai pendapat-pendapat di atas, Syaikh Musthafa al-’Adawi mengatakan, ?Alhasil, apa yang dipaparkan mengenai masalah khitan tersebut tidak terdapat dalil yang shahih dan Sharih (secara terang-terangan) yang mewajibkan wanita berkhitan. Karena itu, siapa di antara mereka yang melakukannya, maka itu adalah haknya dan bila tidak juga tidak ada masalah, Wallahu Ta’ala a’lam.?
    (Hafid M Chofie)

    (SUMBER: Jami’ Ahkam an-Nisa’ karya Syaikh Mushthafa al-’Adawi, juz I, hal.17-23)

  15. HAMBA ALLAH on May 4, 2011 at 9:43 pm

    Asslm. Saya setuju 100% Ibujempol.com
    Smoga Allah SWT meridhoi kita semua Amien..

    Kalau Perempuan tidak disunat dan Sehat 100% dan bahagia.

    Kalau Perempuan disunat Dampak perkembangan Kesehatan bagi perempuan berkurang dan Allah SWT sangat cinta kalau Hambanya sehat. yang dianjurkan dari Al-Qur’an dan Hadisth untuk kesehatan dan kebahagian bagi umatnya di dunia dan di akhirat.

  16. Al Qu on May 6, 2011 at 4:02 am

    Semua adalah tergantung dari hati kita, kalau hati kita tidak ingin anak di sunat itu ya monggo, tidak perlu diperdebatkan panjang lebar, nabi kita juga melarang adanya perdebatan..
    tapi saya cenderung lebih sependapat dengan Bp. Dody Pradipto, Rudi Ikhwan dan juga cow lebih suka cew sunat (namanya kok gitu amat ya.. ) hehe
    karena Sabda Rosulullah pada pengkhitan wanita “Khitanlah (anak perempuan) tapi sedikit saja, sesungguhnya khitan itu membuat wajah lebih berseri dan membuat suami menyukainya”
    Jika khitan wanita memang tidak diperbolehkan oleh Islam kenapa Nabi tidak mmengumumkan adanya pelarangan terhadap khitan wanita dan mengharamkannya serta menghukum pengkhitan wanita tersebut? tapi justru Nabi malah memberitahukan “tata cara mengkhitan yang benar” yaitu dengan cara memotong sedikit saja. Hal ini karena Nabi khawatir akan adanya kesalahan cara memotong pada khitan wanita karena berbeda dengan cara memotong khitan laki-laki. (Seperti yang saat ini banyak terjadi)
    Saya juga mendengar ceramah dari mamah dedeh, dan beliau berkata menirukan sebuah hadist “Khitan pada laki-laki adalah kewajiban dan bagi wanita adalah kemuliaan” yang harus dibenarkan sekarang adalah cara memotongnya. Nah kl saya karena ingin mendapat kemuliaan, saya ingin mengkhitankan putri saya (tapi saya bingung dimana ya?)
    Saya juga setuju dengan Bapak Teguh, bahwa timbulnya pro dan kontra akibat berita yang Awalnya dibawa oleh non islam.
    Untuk Sabil, Khitan gak khitan ga ngaruh, memang benar, semuanya adalah tergantung pada pendidikan, pengamalan agama n bawa iman, tapi kl dengan semua itu + kemuliaan (khitan) kan jd lebih banyak amalan menuju jalan Allah dibanding tanpa plusnya. Tidak usah masalah khitan atau tidak khitan, Masih ingat dengan berita seorang ustads melakukan pembunuhan? nah semua itu adalah berasal dari diri sendiri, namun kita hanya mencoba melakukan hal yang terbaik di hadapan Allah termasuk salah satunya berkhitan itu tadi.
    to Bu Botoh n Cantik, alhamdulilah saya juga adalah produk khitan dari orang tua saya, dan alhamdulillah dalam rumah tangga sayapun juga tidak ada masalah apa2, bahkan dalam urusan hubungan suami istri, alhamdulillah suami sayapun juga menyukainya. Jadi yang seperti saya bilang, khitan dan gak khitan memang gak masalah, namun kl ada tambahan plusnya yaitu keinginan untuk mendapat kemuliaan kenapa tidak. Dan juga seperti mamah dedeh bilang, yang perlu dibenahi adalah cara mengkhitannya, kemungkinan ada yang belum mengerti cara dalam mengkhitan wanita, meski dokter sekalipun.
    Tapi semua itu tergantung pada prinsip dan diri anda sendiri, jangan terlalu berdebat, karena Allah tidak menyukai orang-orang yang berdebat, karena disitu adalah tempat yang disukai syetan. Syetan akan mengompori, yang tidak suka akan semakin tidak suka, yang suka juga semakin kokoh dengan pendapatnya, sehingga umat manusia akan bercerai berai dan tidak bisa berdamai.

  17. thesaltasin on June 11, 2011 at 10:42 am

    DiKhitan dan Telinganya ditindik untuk Wanita , sudah dikerjakan / dipraktekan dari sejak Nabi Ibrahim . karena bunyi Hadits nya pakai bahasa / tulisan arab , jadi tidak dapat ditampilkan disini, wassalam.

  18. Wiwik on July 13, 2011 at 11:38 am

    sy punya seorang anak perempuan berumur 4 tahun dan belum disunat.berhubung banyaknya kontroversi di tengah masyarakat yg mengatakan kalo sunat perempuan itu wajib/tdk wajib,sunnah atau kemuliaan,maka pada saat kakak ipar menawarkan untuk menyunat anak kami bersamaan aku menolak.apalagi tradisi di daerah kami yg mensyaratkan seekor ayam yg di potong jenggernya hingga keluar darahnya pada saat menyunat.jadi yg sy tekankan di sini hanyalah kesimpulan dari berbagai pendapat apakah sunat perempuan itu wajib atau tidak?Mohon pencerahannya agar kami umat muslim tidak bingung.Terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Artikel via Email

Isi E-mail, Klik Saya Mau:


Terima Kasih Atas Kunjungan Anda