Cerita Petualangan ke Bukittinggi 2

Ini sambungan dari kisah petualangan ke Bukittinggi bagian 1.   Kali ini ke Taman Panorama, Ngarai Sianok, Lobang / Goa Jepang, Pasar Atas, Jam Gadang, Istana Bung Hatta.

Malaikat Pelindung Membuat Terharu

Selesai sarapan di hotel kami berjalan kaki menuju Taman Panorama.  Dalam perjalanan aku ngeliat ada travel agent, langsung kami datangi untuk nanya paket tour.  Ternyata harga tour gak cocok dengan budget kami, amat sangat gak cocok.  Harga 500 – 750 ribu rupiah hanya untuk perjalanan sehari ke Danau Maninjau atau gabungan Danau Maninjau dan beberapa obyek wisata lain termasuk istana pagaruyung, tidak sesuai dengan thema wisata kami kali ini yaitu petualangan murah meriah.  Kami keluar travel dengan tangan hampa.  Tapi aku punya keyakinan kuat, kami akan berhasil  ke danau maninjau secara murmer.
Aku akan lanjutkan pasang antena, mencari informasi.    Baru 2 menitan pasang antena sambil jalan, aku menyapa seorang bapak separuh baya yang sedang OR jalan pagi.   Jadilah kami ngobrol sambil jalan.  Aku pasang jurus SKSD   – tapi gak centil loh -  memberondong dengan pertanyaan  cara murmer menuju danau maninjau, harga sewa mobil harian, dll.  Pak Suparlan, nama bapak itu kemudian mengundang kami ke rumahnya yg letaknya hanya beberapa meter dari pintu masuk Taman Panorama.    Aku melihat ketulusannya, maka kami menunda masuk ke Taman Panorama, menuju ke rumah keluarga Suparlan.  Begitulah diriku kalo datangi tempat asing.  Agendaku  kadang dikacaukan dengan hal tak terduga, tapi aku biarkan saja.  Karena jika kudatangi tempat baru gak  hanya untuk mengeksplorasi  keindahan tempatnya, tapi juga untuk berkenalan dengan penduduk, melihat cara hidupnya, dll.

Bersama Kel Suparlan

Bersama Kel Suparlan

Ibu Suparlan menyambut kami dengan sangat ramah, langsung nyuguhin teh dan gorengan.  Anaknya juga ikut ngobrol.  Aku sangat terharu.  Ternyata malaikat pelindung  yang menemaniku travelling itu ada di mana2.  Kami dan keluarga Suparlan  tidak saling kenal sebelumnya, tapi dipertemukan layaknya saudara  yang bertemu kembali.  Kami  bagaikan berkunjung ke kampung sendiri.   Dari keluarga Suparlan aku jadi tau ada bus  menuju Danau Maninjau, terminal busnya dimana.  Pak Suparlan dikompori istrinya menawarkan diri untuk mengantar kami ke terminal tapi kutolak dengan halus.  Karena infonya sudah jelas, ke terminal bisa pake angkot dari depan hotel  langsung ke terminal, gak repot.   Makasih banget atas kebaikan keluarga ini.

Dari rumah Kel Suparlan kami kembali ke Taman Panorama.  Tiket masuk Rp.4.000,-   termasuk tiket ke Goa / Lobang Jepang / Japanese Tunnel.    Di sini aku ngajak anak2 becanda dengan monyet, berfoto dengan latar belakang Ngarai Sianok.  Saat kami sedang duduk melepas lelah, kami didatangi malaikat yang lain : Uni Efi, seorang pemilik kedai makanan kecil di lokasi taman wisata ini.  Kami ngobrol kemudian Uni Efi menawarkan diri untuk mendampingi kami  turun ke Lobang  Jepang .   Mungkin kasihan,  bisa juga ragu akan kemampuan 3 ceweks ini untuk turun ke dalam perut bumi dengan kedalaman 100 m itu.  Aku menolak dengan halus, karena aku tau, aku bisa menghandle sendirian.    Beberapa guide menawarkan jasa guide ke Lobang Jepang, semua kutolak dengan halus.

“mBak, kalo turun sendirian bisa hilang lho, karena  lorong-lorong dibawah tanahnya mirip dan gak ada petanya, orang yang gak biasa bisa nyasar dan ilang” begitu ucapan seorang guide terkesan menakuti.
“Si Uda salah taktik, Da”  mbatinku.  Gak tau dia, kalo Ibujempol ditakutin makin jadi pengen ngebuktiin kekekek.

Lobang Jepang - Ngarai Sianok Bukittinggi

Lobang Jepang - Ngarai Sianok Bukittinggi

Aku sangat kagum dengan kedua putriku,  terutama Jelita.  Usianya belon juga 25 bulan tapi kuat jalan menuruni 132  anak tangga, berjalan di dalam goa dan mendaki  kembali 132 anak tangga, walau akhirnya sebelum 10 anak tangga terakhir menuju pintu,  dia nyerah dan  minta gendong.   Di dalam goa kami lihat ada ruang2 berikut :  6 buah ruang amunisi, 2 ruang makan romusha, dapur,  satu ruang sidang, ruang penjara / penyiksaan,  barak militer.
Awalnya kami sendiri di dalam goa.  Cahaya lampu remang2, lorong yang sempit dan sepi, kalo orang tipe penakut pasti serem.  Bayangkan di dalam  penjara ini ada tawanan Indonesia yang meninggal.  Arwahnya menjadi penunggu goa gak tuh ?   Kami sih santai aja foto2, menikmati keheningan dan udara sejuk.   Kemudian ada guide yg nganter seorang Ibu.  Dari “nguping” kami bisa tau fungsi 3 lobang yang ada di dalam goa.  Ada lobang pengintaian, digunakan serdadu Jepang untuk mengintai dan menyergap orang Indonesia yang lewat.  Ada lobang untuk membuang tawanan  yg meninggal.  Dijebloskan ke lobang itu mayat akan langsung “ditelan” Ngarai Sianok.
Oh ya, untuk yang gak kuat turun naik tangga, bisa  bayar guide dan minta keluar di pintu lain, nanti guidenya minta kunci pintu lain ke penjaga (dan ini musti kita kasih lagi “ongkos pinjem kunci dengan biaya sukarela”).  Tapi ente pikir dulu deh,  Jelita yang cuman 2 tahun aja kuat naik tangga lagi,  ente pasti bisa deh !

Keluar dari goa jepang, kami mampir ke kedai-kedai  ci ndera mata di dalam Taman Panorama,  kemudian makan siang di sana, ngobrol dan pamit dengan Uni Efi.  Sampai di hotel kami tidur siang.  Dua gadis kecilku tidur dengan pulas.  Aku juga istirahat karena  flu yang saat berangkat dari Jakarta sudah terasa,  kali ini semakin serius gejalanya, hidung meler  disertai panas badan dan mata berair.   Sore hari kami ke Pasar Atas, melihat jam gadang dan makan malam.  Juga  belanja buah-buahan, minuman dan jajanan untuk bekal selama perjalanan  ke Maninjau.

Sepanjang malam aku melakukan aksi perang melawan flu.  Makan 1 kg jeruk, 1 kg mangga arum manis, minum 3 liter air dari malam sampai pagi (jadi makan buah dan  minum air terus  tidur, bangun pipis, minum lagi,  tidur lagi, bangun pipis lagi, bolak balik begitu sampai 4 atau 5 kali).  Flu harus sembuh, kalo gak kami bakal batal ke Danau Maninjau.  Puji Tuhan, pagi hari kondisiku pulih total, gak lagi panas badan dan mata berair.

Bersambung lagi ke Malaikat Pelindung mengubah seluruh rencana.  Baca cerita selanjutnya wisata Danau Maninjau – Lubuk Basung

Related Posts with Thumbnails

Tags: , ,

2 Responses to Cerita Petualangan ke Bukittinggi 2

  1. [...] Cerita Petualangan ke Bukittinggi 2 [...]

  2. pikri on September 5, 2010 at 9:40 am

    aku mau masuk ke lobang jepang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Artikel via Email

Isi E-mail, Klik Saya Mau:


Terima Kasih Atas Kunjungan Anda